WE Online, Washington -

Pejabat senior Gedung Putih meminta China lebih terbuka dan transparan mengenai wabah virus Corona atau Covid-19 yang sedang ditanganinya. Hal itu disampaikan saat jumlah korban akibat Covid-19 nyaris mencapai 1.400 orang.

"Kami sedikit kecewa bahwa kami belum diundang (ke China) dan kami sedikit kecewa dengan kurangnya transparansi yang berasal dari China," kata Direktur Dewan Ekonomi Nasional AS Larry Kudlow dikutip laman The Guardian, Jumat (14/2/2020).

Baca Juga: Banyak Dokter di China Meninggal, Publik Murka: Mereka Bukan Mesin, Mereka Kelelahan!

Dia mengungkapkan Presiden China Xi Jinping telah meyakinkan Presiden AS Donald Trump bahwa negaranya akan menerima bantuan Washington. Namun menurut Kudlow, Beijing tak akan membiarkan hal itu terjadi.

"Saya tidak tahu apa motif mereka, yang saya tahu tampaknya semakin banyak orang menderita di sana. Apakah Polibiro (Partai Komunis China) benar-benar jujur pada kita?" kata Kudlow.

Pada Kamis (13/2/2020) lalu, Perdana Menteri China Li Keqiang memimpin rapat di Beijing untuk membahas langkah-langkah penanganan krisis Covid-19.

Dalam rapat tersebut, para pejabat China menyerukan agar daerah-daerah di luar Wuhan turut mengadopsi tindakan karantina dan penyelamatan yang setara.

Di Huanggang, otoritas setempat telah mengumumkan langkah darurat selama dua pekan. Mereka menyegel semua area perumahan dan melarang pemakaian kendaraan kecuali untuk keperluan darurat, tujuan medis, atau resmi.

Petugas distrik di sana akan mengatur persediaan logistik dan lainnya yang dibutuhkan warga. "Semua penduduk tidak boleh masuk atau meninggalkan komunitas mereka tanpa izin," kata Pemerinitah Kota Huanggang dalam pengumuman yang dirilisnya.

Huanggang adalah kota di luar Wuhan yang paling parah terdampak wabah Covid-19. Kota tersebut menangani lebih dari dua ribu kasus infeksi virus. Setidaknya 59 orang dilaporkan telah meninggal.

Langkah darurat di Huanggang juga diterapkan di Dawu, sebuah kota yang berada di pusat Provinsi Hubei. Mereka turut menyegel area permukiman dan bangunan serta melarang penggunaan kendaraan. Warga yang melanggar peraturan akan ditahan.

"Di masa yang luar biasa, tindakan luar biasa diperlukan," kata Pemerintah Kota Dawu.

Di Shanghai, warga menghadapi tindakan karantina yang semakin ketat. Sebuah desa di sana bahkan telah melarang semua penduduknya keluar dan melarang pemakaian kendaraan. Banyak kompleks perumahan di Beijing yang turut menerapkan tindakan demikian.

Hingga Jumat, jumlah warga China yang meninggal akibat Covid-19 mencapai 1.380 orang. Saat ini China masih menangani 60 ribuan kasus infeksi virus.

Partner Sindikasi Konten: Republika