WE Online, Jakarta -

Mengawali awal pekan ini, nilai tukar rupiah bergerak penuh tekanan, baik dari internal maupun eksternal. Dari internal, apresiasi 2,44% dalam tiga bulan terakhir masih menjadi alasan utama yang membuat rupiah terkena tekanan jual atas aksi profit taking. Sementara itu, wabah virus corona yang semakin banyak memakan korban juga turut menjadi sentimen eksternal yang menambah beban bagi rupiah.

Baca Juga: Dear Rupiah, Keperkasaan Dolar AS Tuh Tulen, Bukan Kaleng-Kaleng!

Dengan berbagai kondisi yang tak mendukung itu, rupiah yang kala pembukaan pasar spot Senin (10/02/2020) tadi stagnan di level Rp13.675 per dolar AS harus berbalik terkoreksi mendalam hingga melebihi level Rp13.700.

Baca Juga: Dolar AS Balas Kekalahan, Rupiah Kewalahan!

Dilansir dari RTI, hingga pukul 09.40 WIB, rupiah tertekan -0,13% ke level Rp13.718 per dolar AS. Bahkan, beberapa menit sebelumnya, koreksi rupiah mencapai -0,33% dan menyentuh level terendah di angka Rp13.720 per dolar AS. Selain itu, rupiah semakin babak belur karena tertekan pula di hadapan dolar Australia (-0,71%), euro (-0,35%), dan poundsterling (-0,41%).

Kabar buruknya, rupiah tak hanya menjadi yang terlemah di antara mata uang utama di dunia, tetapi juga di Asia. Seluruh mata uang Asia ikut menekan rupiah dan menjadikan sang Garuda sebagai mata uang paling lemah di Benua Kuning. Rupiah saat ini tertekan oleh won (-0,70%), yuan (-0,41%), dolar Taiwan (-0,35%), dolar Hong Kong (-0,28%), dolar Singapura (-0,28%), yen (-0,18%), baht (-0,14%), dan ringgit (-0,12%).