WE Online, Jakarta -

Aset keuangan safe haven, dolar AS, bergerak variatif dengan kecenderungan menguat terhadap mayoritas mata uang dunia, termasuk rupiah. Kala pembukaan pasar spot pagi tadi, Jumat (7/02/2020), rupiah ragu-ragu sehingga mengawali perdagangan dengan stagnan di level Rp13.620 per dolar AS.

Seiring berjalannya waktu, rupiah makin kewalahan meladeni dolar AS. Alhasil, rupiah berbalik terkoreksi mendalam di hadapan mata uang Paman Sam itu. Hingga pukul 10.03 WIB, rupiah tertekan -0,22% ke level Rp13.649 per dolar AS.

Baca Juga: Panggil Dia Rupiah: Si Ratu Sejagat Penakluk Dolar AS!

Sentimen teknikal menjadi faktor utama yang membuat rupiah rawan terkena tekanan jual. Dilansir dari RTI, dalam kurun waktu sebulan, rupiah perkasa 0,82% terhadap dolar AS. Angka tersebut setara dengan penguatan rupiah 2,60% dalam tiga bulan terakhir. Tekanan jual itu pula yang membuat rupiah tak berdaya di hadapan dua mata uang utama Benua Biru, yakni euro (-0,24%) dan poundsterling (-0,24%).

Baca Juga: Good! Ilmuan Temukan Vaksin Corona, Rupiah Perkasa di Asia dan Dunia!

Sang Garuda hanya unggul tipis terhadap dolar Australia sebesar 0,09%. Performa rupiah di deretan mata uang Asia juga tidak terlalu baik, di mana rupiah tercatat sebagai mata uang terlemah keempat di Asia setelah baht (0,34%), ringgit (0,21%), dan won (0,09%). Sebagaian besar mata uang Benua Kuning yang ikut menambah beban rupiah, yakni dolar Hong Kong (-0,29%), yen (-0,22%), dolar Singapura (-0,22%), dolar Taiwan (-0,11%), dan yuan (-0,05%).